
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak Jumat malam, 23 Januari 2026, bahkan masih berdampak hingga Sabtu 24 Januari 2026 sore tadi. Peristiwa ini mengakibatkan dua korban jiwa serta kerusakan di ratusan titik di beberapa kabupaten/kota.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan angin kencang mulai terjadi sekitar pukul 21.20 WIB dan dipicu oleh aktivitas angin kencang di lapisan udara atas. Hal ini berdasarkan laporan situasi BPBD DIY, Sabtu 24 Januari 2026 pukul 15.00 WIB.
“Telah terjadi kejadian angin kencang mulai tanggal 23 Januari 2026 pukul 21.20 WIB hingga saat ini di wilayah DIY yang dipicu oleh aktivitas angin kencang di lapisan udara atas yakni 925 mb atau sekitar 762 meter di sekitar wilayah Jawa dengan kecepatan berkisar antara 10 sampai 45 knots,” ujar Agustinus dalam keterangannya, pada Sabtu 24 Januari 2026.
Menurutnya, fenomena ini merupakan dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Luana yang berada di sekitar pantai barat laut Australia.
“Hal ini diakibatkan pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis ‘Luana’ di sekitar Pantai Barat Laut Australia,” katanya.
Diungkapkannya, BPBD DIY mencatat, wilayah dengan dampak paling signifikan terjadi di Kabupaten Sleman, dimana tercatat 68 titik terdampak yang tersebar di 11 kapanewon, yakni Cangkringan, Kalasan, Sayegan, Mlati, Ngemplak, Ngaglik, Tempel, Pakem, Turi, Sleman, dan Depok.
“Dampak yang terjadi di Kabupaten Sleman meliputi dua korban jiwa, 62 pohon tumbang, 14 akses jalan terganggu, 13 jaringan listrik rusak, 35 rumah rusak, enam kendaraan terdampak, serta satu jaringan internet mengalami gangguan,” beber Agustinus.
Sementara di Kota Yogyakarta, ada 16 titik terdampak yang tersebar di delapan kemantren, yakni Mergangsan, Kotagede, Gondomanan, Gedongtengen, Jetis, Umbulharjo, Kraton, dan Gondokusuman.
“Di Kota Yogyakarta dampaknya antara lain 14 pohon tumbang, satu tempat usaha terdampak, dan satu tower mengalami kerusakan,” kata Agustinus.
Di Kabupaten Bantul, terdapat delapan titik kejadian di Kapanewon Banguntapan, Sewon, dan Pleret.
“Dampaknya meliputi tujuh pohon tumbang, satu rumah rusak, serta satu akses jalan nasional terganggu,” imbuh Agustinus.
Sedangkan di Kabupaten Kulon Progo, angin kencang menyebabkan satu rumah rusak dan satu pohon tumbang di Kapanewon Kalibawang. Untuk Kabupaten Gunungkidul, BPBD menyatakan tidak terdapat kejadian akibat angin kencang.
Kendati begitu, langkah penanganan yang dilakukan meliputi asesmen, penanganan darurat, serta koordinasi dengan pihak terkait.
“TRC BPBD, BPBD kabupaten/kota se-DIY, KTB, TNI, Polri, Tagana, pemerintah kalurahan, pemerintah kabupaten, PLN, komunitas relawan penanggulangan bencana, serta warga masyarakat,” imbuh Agustinus.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, menjelaskan bahwa angin kencang yang terjadi di wilayah Sleman, khususnya di Kapanewon Pakem dan sekitarnya, dipengaruhi kondisi meteorologi di lapisan udara atas.
“Berdasarkan analisis kondisi meteorologi, angin kencang yang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Sleman dipicu oleh aktivitas angin kencang di lapisan udara atas yakni 925 mb atau sekitar 762 meter di sekitar wilayah Jawa dengan kecepatan 10 sampai 45 knots,” jelas Warjono.
Ia menegaskan bahwa pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Luana menyebabkan wilayah dengan topografi tinggi lebih berpotensi terdampak.
“Dataran dengan topografi yang cukup tinggi berpotensi terdampak oleh angin kencang tersebut akibat pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis Luana,” katanya.
Menurut Warjono, fenomena angin kencang ini bersifat lokal dan sementara, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak.
“Fenomena ini bersifat lokal dan sementara, namun tetap berpotensi menimbulkan dampak seperti pohon tumbang, kerusakan ringan bangunan, serta gangguan aktivitas masyarakat,” katanya.
Oleh karen itu, ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat angin kencang terjadi.
“Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, atau bangunan yang rentan saat angin kencang terjadi,” tegas Warjono.
Meski demikian, ia juga menyampaikan bahwa kondisi angin diperkirakan akan membaik dalam beberapa hari ke depan.
“Untuk beberapa hari ke depan, kecepatan angin diprediksi akan menurun,” pungkas Warjono.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








