
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sleman kembali menggelar program Padat Karya pada 2026. Program ini menyasar sebanyak 5.024 warga Sleman yang masuk kategori pengangguran, setengah pengangguran, dan masyarakat miskin.
Sekretaris Disnaker Sleman, Siti Istiqomah Tjatur Sulistijaningtyas, mengatakan program Padat Karya pada dasarnya merupakan bentuk bantuan sosial yang diarahkan untuk menghasilkan karya nyata bagi pembangunan wilayah Sleman.
“Padat Karya itu tujuannya untuk menjaga kualitas pelaksanaan proses di pemerintahan. Program ini diperuntukkan bagi tiga kategori masyarakat agar menghasilkan karya untuk membangun wilayah Sleman,” ujarnya kepada wartawan di Kantor Disnaker Sleman, Kamis 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada tahun ini Disnaker Sleman membuka enam jenis pekerjaan dalam program Padat Karya, yang sebagian besar bergerak di sektor infrastruktur.
“Ada enam jenis pekerjaan untuk program ini, yakni cor jalan, talud, saluran irigasi, drainase, gorong-gorong, dan resapan,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Sleman, Ayu, menyampaikan bahwa total terdapat 144 paket atau lokasi Padat Karya yang diproyeksikan tahun ini dengan total anggaran mencapai Rp 19 miliar.
“Di tahun ini kami memproyeksikan 144 paket atau lokasi Padat Karya dengan total anggaran hingga Rp 19 miliar,” ujar Ayu.
Menurut Ayu, sebagian besar anggaran program Padat Karya bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) DIY, yakni sebanyak 110 paket yang pelaksanaannya dibagi dalam dua tahap.
“Tahap pertama dilaksanakan di 42 lokasi dengan alokasi anggaran Rp 198,5 juta, dan tahap kedua di 68 lokasi dengan anggaran Rp 98,5 juta,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat 32 paket Padat Karya yang bersumber dari Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Sleman, juga terbagi dalam dua tahap.
“Tahap pertama ada di 6 lokasi dengan alokasi anggaran Rp 198,5 juta dan tahap kedua di 26 lokasi dengan anggaran Rp 98,5 juta,” papar Ayu.
Adapun dari APBD murni Sleman, terdapat dua paket Padat Karya dengan total anggaran sebesar Rp 160 juta.
“Sedangkan yang bersumber dari APBD murni ada dua paket dengan anggaran Rp 160 juta,” imbuhnya.
Lanjut Ayu menambahkan, pelaksanaan Padat Karya dilakukan secara bertahap sepanjang 2026. Pada periode Januari hingga Maret, kegiatan berlangsung di 31 lokasi yang didanai APBD Sleman dan Pokir DPRD. Selanjutnya pada April hingga Juni, program dilaksanakan di 38 lokasi yang bersumber dari BKK DIY dan Pokir DPRD Sleman.
“Bentuk pekerjaan Padat Karya memang didominasi infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ia pun menegaskan, tujuan utama program ini adalah untuk menyerap tenaga kerja secara sementara, terutama saat kondisi atau musim sepi pekerjaan.
“Tujuannya dalam rangka penyerapan tenaga kerja sementara. Jadi dilakukan dalam jangka waktu tertentu, khususnya pada waktu atau musim sepi kerja,” jelas Ayu.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, setiap paket Padat Karya dikerjakan maksimal selama 20 hari dengan jumlah pekerja paling banyak 52 orang, disesuaikan dengan besaran anggaran.
“Setiap paket dikerjakan maksimal 20 hari dengan jumlah pekerja maksimal 52 orang,” ujar Ayu.
Untuk upah, Disnaker Sleman menetapkan besaran yang berbeda sesuai peran pekerja.
“Ketua akan mendapatkan upah Rp 95 ribu per hari, tukang Rp 90 ribu per hari, dan pekerja Rp 95 ribu per hari,” ungkap Ayu.
Kendati demikian, Pembayaran upah dilakukan secara berkala dan seluruh pekerja mendapat perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
“Upah akan dibayarkan setiap lima atau enam hari sekali. Setiap pekerja juga didaftarkan dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN






