
Sugiyatmo, salah satu perwakilan PKL Alun-Alun Kota Wonosari
GUNUNGKIDUL, WARTA-JOGJA.COM – Upaya memberikan ruang bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di kawasan Alun-Alun Pemda Wonosari, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berencana melakukan relokasi terhadap 81 PKL di kawasan Pasar Besole, Baleharjo kini menuai protes dari para PKL. Bentuk protes tersebut berupa sepanduk yang terpampang di sisi barat Alun-Alun, Rabu malam (07/05/2025).
Sepanduk berwarna putih dengan tulisan warna merah menyuarakan keberatan dari para Pedagang Kaki Lima akan dipindahkan ke Besole, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.
Menurut Sugiyatmo, salah satu perwakilan PKL mengatakan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terlihat tergesa-gesa tidak mau menganalisa tempat baru yaitu Besole apakah berpotensi baik bagi pedagang atau tidak,
“Kita sangat prihatin, tiba-tiba disuruh pindah di Baleharjo, kita tahu disitu sama sekali tidak efektif bagi pedagang yang berjualan,” ungkapnya.
Menurutnya, para pengambil kebijakan dengan santainya tanpa merasa salah, tanpa merasa berdosa untuk memindahkan kami.
“Benar, Pemerintah berniat memberikan tempat untuk kita berjualan di Baleharjo, tapi bagi kami sangat-sangat tidak mungkin kami kesana. Sekali lagi kami mohon kepada Pemerintah atas kebijakan ini mohon ditinjau kembali, bahwa kami PKL secara otomatis telah dibuat stroke, mati secara pelan-pelan. Hal ini entah tujuannya bagaimana sehingga kita rakyat kecil menjadi korban kebijakan aturan-aturan yang tidak jelas,” imbuhnya.
Dari statement yang disampaikan oleh narasumber mengandung makna bahwa kebijakan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terlihat tergesa-gesa tanpa memperhatikan dampak kedepan seperti apa adanya dipindahnya para PKL. Dalam hal ini mereka mengajukan protes tidak setuju dipindah di pasar Besole dengan alasan tempat tersebut tidak berpotensi bagi para pedagang.
Reporter warta-jogja.com mengabarkan,













