
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan di sekolah. Puluhan siswa dari beberapa sekolah di Kapanewon Mlati, Sleman, dilarikan ke Puskesmas akibat mengalami gejala mual, diare, dan pusing.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sleman, Dedi Aprianto, membenarkan adanya dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa.
“Ada beberapa siswa yang datang ke Puskesmas Mlati 2 yang memang diduga keracunan makanan. Kenapa saya mengatakan patut diduga? Karena memang masih dalam proses pemeriksaan,” jelas Dedi saat ditemui di Puskesmas Mlati 2, Rabu 13 Agustus 2025.
Dari data sementara, terdapat sekitar 90 siswa yang datang berobat ke Puskesmas Mlati 2. Sebanyak 15 siswa di antaranya dirujuk ke RSUD Sleman karena kondisi yang memerlukan observasi lebih lanjut.
“Kalau dalam triase itu namanya triase hijau bisa dipulangkan, jadi tidak apa-apa. Tapi yang dirujuk itu triase kuning, perlu penanganan observasi. Tapi alhamdulillah, kami cross-check ke RSUD Sleman, kondisinya baik-baik semua,” jelasnya.
Para siswa yang dirujuk disebut, kata Dedi, mengalami gejala dehidrasi akibat muntah dan diare. Namun seluruh pasien dalam keadaan sadar dan stabil.
“Tadi saya tanya ke dokter di RSUD Sleman, ada dua yang kelihatan dehidrasi, tapi sudah tertangani dengan cairan infus. Tapi tetap dipondokan untuk observasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mlati 2, Evita Setiani, memastikan bahwa tidak ada pasien dalam kondisi kritis.
“Kalau yang namanya dirujuk kan pasti lebih perlu penanganan dibanding yang dipulangkan. Tapi kondisinya sadar semua. Enggak ada yang koma atau semacamnya,” ujar Evita.
Kasus ini melibatkan tiga sekolah, yakni SMP Muhammadiyah 3 Malti dan SMP Pamungkas Mlati, yang sebagian besar siswanya ditangani di Puskesmas Mlati 2. Sementara SMP Muhammadiyah 1 Mlati melaporkan sekitar 58 siswa yang berobat di Puskesmas Mlati 1, namun semuanya sudah dipulangkan.
Lanjut Dedi mengungkapkan, dugaan makanan yang dikonsumsi diduga adalah rawon daging sapi yang dibagikan dalam program MBG.
“Kalau yang diceritakan tadi intinya makan rawon dimana rawon itu kan rawon daging ya ada togenya, itu seperti itu. Banyak yang bilang ada yang mengkonsumsinya makanan yang kemarin itu baru dikonsumsi terus baru gejalanya pagi tadi, ada yang seperti itu,” bebernya.
“Tadi juga ada yang mengaku yang makanan tadi pun katanya kok pas dimakan juga mual, ya itu ada. Itu kan, akhirnya kan dari tim kami yang lain kan mengecek kejadian itu lalu mengkonfirmasi, mensurvei. Jadi soal penyebab karena laum MBG atau bukan kami belum tahu karena masih diselidiki,” sambungnya.
Kendati demikian, ia masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diambil oleh tim dari Polresta Sleman dan Dinas Kesehatan.
“Tadi sebagian sudah diambil sampelnya oleh inafis dan farmakmin. Tapi pemeriksaannya kan perlu waktu,” imbuh Dedi.
Oleh karena itu, saat ini pihak Dinas Kesehatan Sleman masih menunggu hasil uji laboratorium. Jika dalam 2×24 jam tidak ditemukan kasus baru, dugaan keracunan dianggap dapat terkendali.
“Data ini masih bergulir, kalau ada perkembangan atau apa, nanti akan dikabari lagi. Tapi insya Allah, kalau sampai besok enggak ada data tambahan, insya Allah aman. Biasanya kalau dicurigai keracunan makanan, keracunan makanan itu satunya paling lama 2×24 jam lah,” pungkas Dedi.

REDAKTUR: MAWAN












