
Ilustrasi menu makanan MBG
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Sejumlah siswa SMP di Kapanewon Mlati, Sleman, mengalami gejala keracunan usai diduga mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada Selasa, 12 Agustus 2025, salah satunya SMP Muhammadiyah 3 Mlati, Sleman.
Kepala SMP Muhammadiyah 3 Mlati, Yulia Rachmawati mengungkapkan, gejala mulai dirasakan siswa sejak dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB, dan diketahui pihak sekolah setelah banyak siswa tidak masuk pada Rabu pagi.
“Awalnya kami sadar karena ada beberapa anak yang izin tidak masuk sekolah, tapi jumlahnya agak banyak. Setelah kami tracing, ternyata semuanya mengeluhkan sakit sejak dini hari. Yang tidak masuk semuanya diare,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu 13 Agustus 2025 sore ini.
Menurut Yulia, siswa yang tetap datang ke sekolah juga menunjukkan gejala serupa setelah siswanya mengonsumsi menu MBG Selasa kemarin.
“Anak-anak mengeluhkan sakit perut, diare, bolak-balik ke kamar mandi. Kami tanya awal mula gejalanya, mereka menyatakan setelah konsumsi MBG yang dibagikan Selasa kemarin,” ujarnya.
Yulia menyebut, selain siswa yang mengalami gejala serupa, ditambah tujuh guru yang turut mencicipi sisa makanan MBG.
“Karena kemarin MBG-nya agak sisa banyak, beberapa guru juga ikut mencicipi dan ikut mengalami gejala,” tambahnya.
Saat ini, menurut Yulia sebagian besar siswa telah mendapatkan perawatan dan sudah diperbolehkan pulang. Namun, tiga siswa masih menjalani perawatan di RSUD Sleman setelah sebelumnya dirujuk dari Puskesmas.
Kemudian, pihaknya langsung berkoordinasi dengan penyedia MBG, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Puskesmas, hingga pemerintah daerah untuk penanganan cepat. Untuk sementara, kata Yulia, sekolah memutuskan menghentikan distribusi MBG selama beberapa hari ke depan.
“Kami pastikan penyedianya mengevaluasi dan memperbaiki semua dulu, memastikan semuanya aman, baru kami mungkin lanjutkan MBG lagi. Untuk sekarang, satu dua hari kami stop dulu,” tegasnya.
Terlebih adanya komplain dari orang tua yang akan ditindaklanjuti dalam pertemuan khusus besok pagi.
“Besok pagi jam 08.00 WIB, kami akan mengumpulkan orang tua, memberikan penjelasan dan klarifikasi, serta meluruskan beberapa informasi yang mungkin tidak benar di luar sana,” pungkasnya.
Kuota MBG di SMP Muhammadiyah 3 Mlati sendiri sebanyak 100 porsi sesuai jumlah siswa, meski tidak semua siswa mengonsumsinya. Menariknya, siswa yang menolak konsumsi MBG dilaporkan tidak mengalami gejala apapun.
“Dalam artian karena mungkin sudah terlalu sering, kadang mereka susah atau tidak selera dengan menunya, kami tidak mungkin memaksa mereka harus makan. Sehingga mungkin karena kadang-kadang saking beberapa anak menolak itu ada guru yang daripada mubazir kemudian ada guru yang ikut konsumsi,” ucapnya.
Kasus ini bukan hanya terjadi di SMP Muhammadiyah 3 Mlati, namun juga dilaporkan terjadi di beberapa sekolah lain di Sleman yang menerima distribusi MBG serupa. Hingga kini, dugaan sementara penyebabnya berasal dari makanan yang didistribusikan dalam program tersebut.

REDAKTUR: MAWAN







