
Mewakili civitas akademika UGM, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, menyampaikan duka cita (foto Olivia Rianjani Reporter WARTA-JOGJA.COM, Selasa 2 Juli 2025)
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dilaporkan meninggal dunia setelah speedboat yang mereka tumpangi terbalik saat perjalanan pulang dari pengambilan pasir untuk program pembangunan lingkungan dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Kecamatan Mayeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, Senin (1/7/2025) sekitar pukul 15.28 WIT.
Dua korban yang meninggal dunia adalah Septian Eka Rahmadi dari Fakultas Teknik dan Bagus Adi Prayudho dari Fakultas Kehutanan. Keduanya merupakan bagian dari tim KKN UGM yang menjalankan program pembangunan tempat pembuangan sampah dan pelestarian lingkungan di wilayah pesisir Menyu.
Mewakili civitas akademika UGM, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian ini.
“Kami sangat terpukul. UGM berduka, keluarga berduka. Kami mohon doa agar kedua almarhum mendapatkan tempat terbaik. Mereka gugur dalam tugas pengabdian, menjalankan amanah intelektual mereka untuk berbakti kepada masyarakat dengan penuh semangat dan dedikasi,” ucap Dr. Arie kepada wartawan, Selasa (2/7/2025).
Arie menambahkan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan cepat oleh warga setempat dan tim SAR. Septian Eka Rahmadi sempat dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur namun meninggal dunia dalam perjalanan. Sementara jenazah Bagus Adi Prayudho ditemukan oleh warga pada malam harinya sekitar pukul 22.15 WIT setelah pencarian secara swadaya.
“Kami mengapresiasi keterlibatan masyarakat, Basarnas, SAR, BNPB, dan seluruh pihak yang sigap membantu. Sejak semalam kami terus menjalin komunikasi dengan Pemda dan Kagama di Maluku Tenggara. Jenazah telah diberangkatkan hari ini menuju kampung halaman masing-masing,” ujarnya.
Terdapat lima mahasiswa lainnya yang selamat, namun mengalami luka dan sesak napas. Mereka saat ini dalam perawatan medis, yakni:
• Muhammad Arva Sagraha dirawat di RSUD Karel
• Afifuddin Baliya dirawat di RS Adi Kudus Langgur
• Pratista Halimawan dan Daeren Sekti Hermanu dalam kondisi stabil
Lanjut Arie mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi pelaksanaan KKN agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Kami sadar betul, ini menjadi pembelajaran. Tapi semangat pengabdian almarhum semoga menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika,” ucapnya.
UGM juga akan mengirim tim psikolog ke Maluku Tenggara Jumat ini untuk mendampingi mahasiswa KKN yang masih berada di lokasi, mengingat trauma yang ditimbulkan dari peristiwa ini.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Djarot Heru, menjelaskan bahwa rombongan terdiri dari 12 orang, yakni 7 mahasiswa dan 5 warga lokal. Speedboat membawa 16 karung pasir dari pulau terdekat menuju desa sebagai bagian dari proyek pembangunan fasilitas pengelolaan sampah dan program pelestarian lingkungan, termasuk pembuatan terumbu karang buatan.
“Ini adalah perjalanan kedua mereka. Saat perjalanan pulang, sekitar 300 meter dari pantai, cuaca berubah drastis dan ombak mencapai 2,5 meter. Perahu terbalik. Semua penumpang berusaha berenang ke pantai, namun dua mahasiswa tertinggal akibat kelelahan dan panik,” jelas Djarot.
Septian diketahui sempat mencapai bibir pantai, namun kondisi kritis akibat menelan air laut membuat nyawanya tak tertolong. Bagus ditemukan malam harinya oleh warga yang melanjutkan pencarian meski operasi resmi SAR telah dihentikan sementara.
“Bagus ditemukan tadi malam pukul 22.15 WIT. Sebenarnya itu oleh tim SAR, Basarnas, dan teman-teman sudah menutup operasi itu dengan statement untuk dilanjutkan pukul 8 WIT. Tapi penduduk setempat tidak terima mereka masih saking cintanya dengan adik-adik KKN, mereka dijam segitu mencari mencoba mengupayakan penyelamatan dengan dasar mandiri, tanpa pendamping. Dan Alhamdulillah 15 menit berhasil ditemukan tapi dalam kondisi meninggal dunia,” ungkap Djarot.
Djarot juga menyampaikan, sebelum kedua jenazah diberangkatkan ke bandara, oleh jajaran Pemda beserta warga setempat telah melakukan solat jenazah.
“Infonya tadi pagi, Pemda itu menggerakkan seluruh OPD yang beragama Islam untuk menyolatkan di Masjid Besar di Langgur di Kabupaten Maluku Tenggara. Jadi Alhamdulillah prosesnya sudah berjalan,” imbuhnya.
UGM saat ini melakukan pendampingan intensif, baik logistik, psikologis, maupun spiritual terhadap keluarga korban dan mahasiswa lain yang berada di lokasi. Pemulangan jenazah dijadwalkan tiba di Surabaya malam ini 2 Juli 2025 dan akan dilanjutkan ke kampung halaman masing-masing yakni ke Sumbawa untuk Septian dan Bojonegoro untuk Bagus.
“Sementara ini untuk tindak lanjut UGM, kami pada Jumat besok akan mengirim tim psikologi ke lokasi untuk pendampingan, karna kebetulan kami juga harus mendampingi unit yang lain yang di dekatnya karena mereka pun juga shock,” pungkas Djarot.

Redaktur Mawan











