
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Widiastuti Setyaningsih (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Persoalan keamanan dan keaslian pangan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Kasus keracunan pangan, termasuk yang menimpa siswa sekolah, hingga maraknya peredaran produk pangan palsu di pasar dan platform e – commerce menunjukkan lemahnya sistem deteksi cepat di lapangan.
Menjawab persoalan tersebut, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Widiastuti Setyaningsih, berhasil mengembangkan metode deteksi cepat untuk menguji tingkat keamanan, keaslian, dan kualitas pangan hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Atas inovasinya itu, ia meraih Encouragement Award dari Hitachi Global Foundation, penghargaan internasional bergengsi yang diberikan pekan lalu.
Melalui riset berjudul “Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems”, Widiastuti mengembangkan metode analisis kimia yang mampu menggantikan pengujian laboratorium konvensional yang biasanya memerlukan waktu berhari-hari dan penggunaan bahan kimia berbahaya.
Menurut Widi, pendekatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pengawasan pangan modern yang menuntut kecepatan, ketepatan, serta keberlanjutan lingkungan.
“Inovasi yang saya kembangkan berfokus pada tiga pilar utama, yaitu food safety atau keamanan pangan, authenticity atau keaslian pangan, dan functional quality atau kualitas fungsional,” ujarnya, Kamis (21/1/2026).

Ramah Lingkungan dan Minim Bahan Kimia Selain cepat dan akurat, metode yang dikembangkan Widi juga mengusung konsep ramah lingkungan atau green analytical method. Ia memanfaatkan teknik ekstraksi tingkat lanjut seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction yang hanya membutuhkan pelarut dalam jumlah sangat kecil.
“Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya.
Dalam proses analisis, Widi juga memaksimalkan penggunaan metode spektroskopi. Teknik ini memanfaatkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan materi untuk mengetahui sifat kimia dan fisika suatu senyawa tanpa melalui tahapan ekstraksi panjang.
“Dengan spektroskopi, analisis bisa dilakukan sangat cepat, bahkan dalam beberapa kasus bersifat non-destruktif terhadap sampel,” katanya.
Namun, Widi tetap mengembangkan metode kromatografi sebagai pembanding dan pelengkap. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC) mampu memangkas waktu analisis secara signifikan.
“Pada kromatografi konvensional, analisis bisa memakan waktu yang lama. Namun dengan UPLC, waktu analisis dapat dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi hanya 3 menit,” imbuhnya.
Deteksi Zat Berbahaya Hingga NAPZA
Menariknya, metode ini tidak hanya mampu mengidentifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mendeteksi senyawa berbahaya dalam produk pangan. Beberapa di antaranya adalah mikotoksin seperti aflatoksin dan okratoksin, serta NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang berpotensi disalahgunakan. Widi berharap hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan oleh lembaga pengawas pangan nasional.
Serta, metode ini juga dapat digunakan untuk menganalisis kualitas fungsional pangan, seperti potensi antidiabetes, antidepresan, dan manfaat kesehatan lainnya dalam berbagai sistem pangan.
“Harapannya, metode ini bisa diadopsi oleh BPOM dan institusi terkait untuk memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan nasional,” ucapnya.
Dapat Bedakan Kopi Luwak Hingga Keaslian Kakao
Dalam risetnya juga, Widi mengkaji beragam sistem pangan atau diverse food system, mulai dari edible flowers, kopi, kakao, hingga makroalga.
“Yang saya ajukan ke Hitachi itu diverse food system, jadi tidak hanya satu, tetapi beragam sistem pangan. Edible flowers-nya juga tidak hanya bunga pisang atau rosella, tapi juga kecombrang, senggani, turi, safflower, banyak sekali, makanya disebut diverse,” terangnya.
Ia bahkan mengembangkan aplikasi berbasis website untuk analisis makroalga dan cokelat. Melalui aplikasi tersebut, laboratorium yang memiliki data spektroskopi dapat langsung mengunggah data untuk dianalisis.
“Kalau semua lab yang melakukan quality control punya data spektroskopi, tinggal di upload saja ke web. Nanti hasilnya bisa langsung diketahui,” jelas Widi.
Menurutnya, teknologi ini mampu membedakan kopi luwak yang berasal dari luwak liar maupun hasil penangkaran. Pada produk kakao, metode ini juga bisa mengetahui apakah bubuk kakao tersebut murni atau telah dicampur bahan lain.
“Nanti setelah diolah di web itu, akan ketahuan apakah kakao itu murni atau tidak. Kalau ada campuran, bisa diketahui campurannya apa dan berapa persen. Web itu bisa diakses pengguna di seluruh dunia dan gratis,” ungkapnya.
Kendati demikian, penghargaan dari Hitachi Global Foundation ini diberikan atas konsistensi Widi dalam mengembangkan metode analisis kimia pangan sejak 2012. Ia mengaku pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus menghasilkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Latar belakang saya sebagai analytical chemist yang memadukan teknologi pangan dan kimia analitik mendorong saya fokus pada metode analisis yang cepat, akurat, dan aplikatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, metode yang dikembangkan tidak hanya diterapkan pada bahan mentah, tetapi juga pada produk pangan olahan.
“Saya pernah mengembangkan metode penentuan resveratrol pada kue kering dan selai. Jadi tidak hanya di bahan mentah, tapi juga sampai ke *final product,” ucapnya.
Ke depan, Widi berharap risetnya dapat diadopsi oleh industri, laboratorium pemerintah, kementerian terkait, Bea Cukai, serta BPOM, sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis data ilmiah.
“Harapannya, riset saya tidak hanya berhenti di lab, tapi bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







