
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Kepedulian warga terhadap kelestarian Sungai Code diwujudkan melalui pembentukan Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan – Kali Code. Komunitas ini terdiri dari sekitar 30 warga dari Kelurahan Prawirodirjan dan Wirogunan, yang dipisahkan oleh sungai dan dihubungkan oleh Jembatan Surokarsan.
Ketua komunitas, Sodik Ritwanto, mengatakan bahwa tujuan utama komunitas adalah menjaga keberadaan dan kelestarian sungai.
“Pada prinsipnya, karena kami komunitas yang bergerak di bidang sungai, inti kami adalah bagaimana menjaga keberadaan sungai itu. Itu yang paling pokok,” ujarnya saat ditemui wartawan di Pendopo Taman Perwira Prawirodirjan, Gondomanan, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, komunitas ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan kawasan sungai sebagai ruang ekonomi, seni, dan budaya, sesuai harapan Wali Kota Yogyakarta. Pengembangan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan fungsi utama sungai dan lingkungan sekitarnya. Ia menyebut, komunitas akan berkolaborasi dengan Kampung Wisata Suro Amerto di Wirogunan.
“Nanti akan berkolaborasi. Untuk saat ini kami masih fokus di sekitaran. Kalau posisi kami sudah cukup baik, baru akan kami kembangkan ke wilayah lain, baik ke selatan maupun ke utara,” katanya.
Namun, kata Sodik, saat ini sampah masih menjadi tantangan terbesar komunitas, pasalnya kerap menumpuk di bendungan, terutama saat debit air meningkat.
“Tantangan terberat kami adalah sampah. Kalau sudah tersangkut di bendungan, sampahnya ngumpul semua di situ. Ini PR besar kami,” ungkapnya.
Meski begitu, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Edukasi terus dilakukan, seiring dengan kebijakan Pemkot Yogyakarta yang mendorong pengelolaan sampah melalui sistem transporter sehingga mengurangi potensi pembuangan sampah ke sungai.
“Tetap masih ada, ya masih ada satu atau dua. Kami terus memberikan edukasi,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya peran komunitas dalam pelestarian sungai.
“Komunitas peduli sungai itu sangat penting sekali. Pemerintah tidak mampu merawat sungai sendiri tanpa kerja sama dengan semua pihak, termasuk Balai Besar dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hasto, keterlibatan warga yang tinggal di sekitar sungai membuat upaya pelestarian lebih efektif dan berkelanjutan.
“Kalau kepedulian itu tumbuh dari masyarakat sendiri, mereka akan merasa memiliki. Kalau ada yang buang sampah, tetangganya akan mengingatkan. Itu yang paling efektif,” katanya.
Selain itu, Hasto menyoroti potensi pemanfaatan kawasan sungai sebagai destinasi wisata lokal dan ruang kreatif masyarakat. Menurutnya, setiap destinasi wisata itu harus ada magnetnya ya, mungkin dimulai dari bagaimana kreativitas komunitas peduli sungai itu untuk bisa menghadirkan wisata yang sifatnya lokal dulu.
“Di sini bisa untuk berbagai macam kreativitas kegiatan termasuk tampil seni budaya. Kalau malam minggu atau malam libur, bisa menjadi ajang pentas seni budaya. Dari situlah maksud saya menjadi magnet,” jelasnya.
Oleh karena itu, Hasto pentingnya kolaborasi antara komunitas dan program pemerintah, seperti Satgas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang membersihkan sungai.
“Program yang ada dari Dinas LH ini harus nyambung dengan komunitas, contoh Satgas dari Dinas LH itu ada ulu-ulu yang biasanya membersihkan sungai. Nah, ulu-ulu ini kan tidak punya tempat untuk mengolah sampah di pinggir sungai ini. Komunitas peduli sungai ini bisa berkembang mengolah sampah menjadi pupuk, yang bisa dibeli juga oleh LH. Sehingga tidak hanya kerja tapi ada yang menghasilkan, mereka produktif,” pungkas Hasto.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







