Tina Chadarsi, S.E., pendiri Sanggar Vidya Budaya Nusantara, menggelar pagelaran wayang kulit lima dalang di Jepitu, Gunungkidul, dalam rangka Hari Wayang Nasional 2026. (foto Bandung)
WARTA-JOGJA.COM || GUNUNGKIDUL, DIY – Memperingati Hari Wayang Nasional pada 7 November 2026, Tina Chadarsi, S.E., pendiri Sanggar Vidya Budaya Nusantara, menghadirkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Padukuhan Karanglor, Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan yang mengangkat lakon Tumuruning Sri Sedana tersebut melibatkan lima dalang yang tampil secara bergantian, yakni Ki Krisna, Ki Bayu, Ki Suman, Ki Bambang, dan Ki Kaizan.
Penyelenggaraan pagelaran ini menjadi bagian dari upaya Sanggar Vidya Budaya Nusantara dalam menjaga keberlangsungan seni pewayangan, memperkenalkan nilai-nilai budaya Jawa kepada masyarakat, serta membuka ruang regenerasi bagi generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai warisan budaya leluhur.
Di bawah prakarsa pendirinya, Tina Chadarsi, S.E., Sanggar Vidya Budaya Nusantara tidak hanya diarahkan menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan kesenian, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang edukasi, pembinaan kreativitas, dan pengembangan kebudayaan lokal. Kehadiran sanggar tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga identitas budaya bangsa di tengah perubahan zaman.
Melalui pertunjukan wayang kulit, sanggar berupaya menghadirkan kebudayaan bukan sekadar sebagai peninggalan sejarah, melainkan sebagai warisan hidup yang perlu terus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tina Chadarsi, S.E., Mengembangkan Sanggar sebagai Wadah Pelestarian Budaya
Sebagai pendiri Sanggar Vidya Budaya Nusantara, Tina Chadarsi, S.E., menghadirkan sebuah wadah yang berorientasi pada pelestarian, pembinaan, dan pengembangan seni serta kebudayaan Nusantara, khususnya tradisi Jawa.
Sanggar yang berlokasi di Padukuhan Karanglor, Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, tersebut dibangun dengan semangat kecintaan terhadap warisan leluhur. Keberadaannya diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk mengenal lebih dekat kekayaan seni dan tradisi bangsa.
Fungsi sanggar tidak terbatas pada penyelenggaraan pertunjukan seni. Lebih dari itu, sanggar diharapkan menjadi tempat pembelajaran, pengembangan keterampilan, penanaman nilai-nilai budaya, serta pembentukan karakter generasi penerus.
Berbagai bentuk kesenian, seperti seni tari, karawitan, musik tradisional, sastra, dan seni pertunjukan, menjadi bagian dari ruang pengembangan kreativitas yang ingin dibangun.
Pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional menjadi salah satu wujud konkret pelaksanaan fungsi tersebut. Melalui keterlibatan lima dalang dalam satu pertunjukan, masyarakat memperoleh kesempatan menyaksikan langsung keberagaman ekspresi seni pewayangan sekaligus mengenal tradisi pedalangan.
Pelestarian Budaya sebagai Tanggung Jawab Generasi
Vidya Budaya Nusantara merupakan wadah pembinaan dan pengembangan seni serta kebudayaan yang tumbuh dari kecintaan terhadap warisan leluhur.
Sanggar ini memiliki tujuan untuk menjaga, merawat, dan melestarikan kebudayaan Nusantara, khususnya kebudayaan Jawa, agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan semakin terbukanya pengaruh budaya asing dalam kehidupan sehari-hari, upaya mempertahankan akar budaya dan jati diri bangsa menjadi semakin penting.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menghadapi tantangan masa depan, melainkan juga bangsa yang menghargai sejarah dan menjaga warisan budaya para pendahulunya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Vidya Budaya Nusantara dikembangkan sebagai ruang pembelajaran, pengembangan potensi, dan pelestarian seni budaya bagi anak-anak serta generasi muda.
Visi Sanggar Vidya Budaya Nusantara
Menjadi pusat pembinaan, pelestarian, dan pengembangan seni serta kebudayaan Nusantara yang berlandaskan nilai-nilai luhur warisan leluhur, dengan membangun generasi yang kreatif, berbudi pekerti luhur, serta memiliki kecintaan terhadap budaya bangsa.
Misi Sanggar Vidya Budaya Nusantara
Untuk mewujudkan visi tersebut, sanggar memiliki sejumlah misi strategis, yaitu:
1. Melestarikan seni, tradisi, dan kebudayaan Nusantara sebagai warisan leluhur.
2. Menumbuhkan rasa cinta, kebanggaan, dan kepedulian terhadap budaya bangsa sejak usia dini.
3. Menyediakan ruang pembelajaran seni dan budaya bagi anak-anak serta generasi muda.
4. Mengembangkan kreativitas melalui seni tari, karawitan, musik tradisional, sastra, dan seni pertunjukan.
5. Menanamkan nilai tata krama, unggah-ungguh, gotong royong, serta budi pekerti luhur.
6. Membangun jejaring kolaborasi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat.
7. Melahirkan generasi penerus yang memiliki kemampuan serta komitmen dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Nusantara.
Lima Arah Pengembangan Sanggar Vidya Budaya Nusantara
Ke depan, Sanggar Vidya Budaya Nusantara diharapkan berkembang lebih luas, tidak hanya sebagai sanggar seni, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dan pengembangan kebudayaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Terdapat lima cita-cita besar yang menjadi arah pengembangan sanggar tersebut.
Pertama, Pusat Pendidikan Budaya, yakni menjadi tempat bagi anak-anak dan generasi muda untuk mempelajari seni, sejarah, tradisi, serta filosofi kebudayaan Nusantara.
Kedua, Rumah Seni dan Kreativitas, sebagai ruang pengembangan berbagai cabang seni, mulai dari tari, karawitan, musik tradisional, sastra, hingga seni pertunjukan.
Ketiga, Pusat Regenerasi Budaya, yang berorientasi melahirkan generasi muda berkompeten untuk meneruskan tradisi dan menjaga keberlangsungan kebudayaan bangsa.
Keempat, Ruang Kolaborasi, yakni mempertemukan seniman, budayawan, pendidik, masyarakat, komunitas, dan pemerintah dalam upaya bersama mengembangkan kebudayaan.
Kelima, Pusat Kebudayaan Nusantara, yang diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Arah pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan. Seni tradisional tidak cukup hanya dipertunjukkan dalam acara tertentu, tetapi juga perlu diperkenalkan melalui pendidikan, pembinaan, praktik kesenian, dan keterlibatan generasi muda.
Nguri-uri, Ngurip-urip, Ngrembakakake: Tiga Prinsip Pelestarian Budaya
Dalam menjalankan semangat pelestarian budaya, Vidya Budaya Nusantara mengusung tiga prinsip utama yang menjadi landasan menjaga keberlangsungan tradisi.
Nguri-uri, berarti menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap terpelihara dan tidak hilang ditelan zaman.
Ngurip-urip, berarti menghidupkan kebudayaan melalui praktik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah.
Ngrembakakake, berarti mengembangkan kebudayaan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa.
Ketiga prinsip tersebut mencerminkan pentingnya menjaga kesinambungan antara warisan masa lalu, kehidupan masa kini, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
Melalui penyelenggaraan pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Wayang Nasional, Sanggar Vidya Budaya Nusantara di bawah prakarsa Tina Chadarsi, S.E., turut mengambil bagian dalam upaya menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap seni pewayangan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan semata-mata tanggung jawab seniman dan budayawan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Redaktur: Mawan

