
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas awan panas guguran pada Kamis 8 Januari 2026 sore. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan satu kali kejadian awan panas dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan peristiwa itu terjadi pada pukul 17.07 WIB. Menurutnya, berdasarkan data seismik, peristiwa tersebut tercatat dengan amplitudo maksimum 52 milimeter dan durasi sekitar 130 detik.
“Secara visual, pengamatan terkendala kabut dengan arah angin bertiup ke barat laut,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis 8 Januari 2026.
Aktivitas awan panas guguran itu terjadi di tengah hujan yang melanda kawasan Merapi. Menurut catatan BPPTKG, hujan terjadi di lereng selatan gunung sejak pukul 15.21 WIB dengan curah hujan 26 milimeter, durasi 33 menit, dan intensitas 89 milimeter per jam. Hujan terus berlangsung hingga sore hari.
Di puncak Gunung Merapi, hujan mulai tercatat pukul 17.42 WIB dengan curah 7 milimeter selama 12 menit dan intensitas 42 milimeter per jam.
“Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, serta risiko lanjutan awan panas guguran di daerah potensi bahaya,” kata Agus.
Dalam laporan pengamatan periode pukul 12.00 – 18.00 WIB, BPPTKG mencatat cuaca di sekitar gunung didominasi mendung dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat, suhu udara berkisar 18,7 – 22,7 derajat Celsius, dan kelembapan mencapai 87,8 – 99,8 persen. Volume curah hujan tercatat sekitar 28 milimeter per hari.Secara visual, gunung teramati tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III dan tidak teramati asap kawah.
“Dari sisi kegempaan, selain satu kali awan panas guguran, tercatat 24 kali guguran lava dan 17 kali gempa hybrid atau fase banyak. BPPTKG menyebut awan panas guguran meluncur ke arah alur yang tidak teramati secara visual dengan jarak maksimum 1.000 meter,” ungkap Agus.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi tetap di Level III atau Siaga. BPPTKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya.
“Potensi bahaya meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan – barat daya, termasuk Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer,” imbuh Agus.
Ia juga kembali menghimbau masyarakat agar terus mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi, serta mengantisipasi potensi gangguan akibat abu vulkanik.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” pungkas Agus.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN











