
WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Yayasan Mitra Karya Maporina, yang menangani SPPG Sinduadi di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan massal terhadap lauk MBG di tiga sekolah di wilayah tersebut.
Pembina Yayasan tersebut, Retna Susanti, menyebut bahwa hingga saat ini belum dapat dipastikan penyebab kejadian, apakah karena bakteri atau faktor lain, karena masih dalam proses penelitian laboratorium.
“Bukan keracunan, karena kita belum tahu ya apakah kena bakteri atau apa. Jadi saya belum bisa memastikan kalau terkait keracunan. Saya tidak bikin pernyataan keracunan, ini masih diteliti,” ujarnya kepada wartawan saat dihubungi melalui teleponnya, Jumat 24 Oktober 2025.
Retna menjelaskan, menu yang disediakan di SPPG Sinduadi, termasuk opor ayam, sudah dijalankan selama dua bulan dan selama periode itu tidak ada masalah sebelumnya.
“Sebenarnya selama dua bulan itu tidak ada masalah, cuma enggak tahu ini yang ini. Karena ini kan baru dalam proses penelitian,” jelasnya.
Ditengah – tengah kegelisahaan dugaan keracunan itu, pada hari ini, Sabtu 24 Oktober 2025, hanya satu sekolah tetap menerima MBG (makanan bergizi) dari yayasan itu yakni MTSM.
Retna menyampaikan, jumlah porsi yang disiapkan oleh SPPG Sinduadi per hari mencapai sekitar 4.000 porsi. Untuk hari ini, Kloter I pukul 07.30 sebanyak 1.887 porsi, dan Kloter II pukul 09.30 sebanyak 1.523 porsi. Dari dua sekolah yang menarik makanan, jumlahnya sekitar 1.800 porsi.
“Kalau (menu) hari ini ini kita kukusan semua. Jadi ada dimsum, kentang. Kemudian ada yang kita tarik, kemudian ada yang mau, ya ada yang meminta. Kalau dimsum kan menurut mereka aman (MTSM), juga enggak banyak kejadian,” katanya.
Terkait langkah selanjutnya, Retna menegaskan pihak yayasan masih menunggu rekomendasi dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan tim laboratorium.
“Kita masih menunggu penelitian dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, juga dari ada Inafis. Nanti lapor ke BGN, terus BGN merekomendasikan ke kita efek dari ini itu seperti itu dan lain sebagainya. Jadi kita belum bisa memastikan terkait itu, mohon maaf,” tegasnya.
Ditegaskan Ratna bahwa SPPG tersebut terhadap seluruh proses memasak telah memenuhi standar higienitas, menggunakan bahan segar, dan didampingi ahli gizi serta chef bersertifikasi.
“Chef yang kita punya itu juga sudah bersertifikasi, kemudian kita juga dapur sudah memenuhi standar MBG. Bahan kita enggak ada yang dibekukan, jadi semuanya fresh,” tuturnya.
Menurutnya, setiap dapur terdapat ahli gizinya itu dimana menjelaskan pengetahuan gizi pada menu yang akan dibuatnya.
“Kita sebenarnya dua minggu yang lalu sudah bekerja sudah mengundang ahli untuk mitigasi terkait higienitas. Kemudian terkait makanan dicampur apa itu, supaya tidak menjadi racun dan sebagainya itu ada itu. Baru satu minggu yang lalu kami tuh undang ahli gizi ahli makanan dari pertanian, dari UGM khusus untuk memberikan semacam pelatihan,” imbuhnya.
Selain itu, Retna menyampaikan, pada sisa makanan yang ditarik dari sekolah langsung dikategorikan sebagai sampah dan dibuang sesuai ketentuan.
“Kalau sudah ditarik ya kita kategorikan sampah gitu. Kita ada tempat pembuangan sampah untuk sisa – sisa makanan itu, itu ada ketentuannya. Jadi itu seminggu per dua kali disedot gitu,” paparnya.
Sementara itu, keputusan terkait kelanjutan operasional SPPG Sinduadi hingga hasil laboratorium keluar belum bisa dipastikan.
“Enggak tahu, belum dapat kepastian dari itu. Karena hasilnya belum keluar. Jadi, kita masih nunggu penelitian dari laboratorium ini apakah apa yang menyebabkan anak-anak menjadi diare dan sebagainnya, pungkas Retna.

🔷️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








