
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Kampung Ramadhan 1447 Hijriah di kawasan Masjid Jogokariyan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, resmi dibuka pada sore hari ini 18 Februari 2026 dalam suasana penuh syukur, meski cuaca mendung menyelimuti Kota Yogyakarta. Antusiasme warga tetap tinggi memadati kawasan tersebut untuk menyambut tradisi tahunan yang telah menjadi ikon Ramadan di kota ini.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono, mengatakan Kampung Ramadan Jogokaryan bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari denyut kehidupan sosial masyarakat.
“Sore hari ini kita bertemu dalam suasana penuh syukur untuk membuka Kampung Ramadan Jogokariyan 1447 Hijriah. Meskipun dalam suasana mendung, hal itu tidak mengurangi semangat kita untuk berbondong-bondong hadir di tempat ini,” ujarnya dalam sambutannya membacakan pidati Wali Kota yang berhalangan hadir.
Ia menuturkan bahwa Masjid Jogokariyan memiliki sejarah panjang dalam menggerakkan umat, mulai dari kegiatan sosial, pelayanan jamaah yang tertata, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
“Banyak orang belajar tentang manajemen masjid, tentang kedekatan pengurus dengan jamaah, dan bagaimana masjid hadir di tengah persoalan masyarakat,” katanya.
Menurut Yunianto, setiap Ramadan kawasan Jogokariyan selalu menghadirkan energi yang berbeda. Warga berdatangan sejak sore, anak-anak bermain dengan riang, dan pedagang mempersiapkan dagangannya menjelang waktu berbuka.
“Doa bersama inilah wajah Yogyakarta yang kita kenal. Kota ini tumbuh dari tradisi dan budaya yang kuat, dan kegiatan seperti ini menjaga denyut kebersamaan tetap hidup,” ungkapnya.
Namun, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Ramainya pengunjung adalah berkah, meningkatnya aktivitas ekonomi adalah kabar baik. Tapi semua itu harus diiringi dengan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Tak lupa, ia juga mengajak panitia, pedagang, dan pengunjung untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi penggunaan plastik.
“Jangan sampai semangat ibadah kita tercoreng oleh lingkungan yang kotor dan tidak tertata. Mari kita pastikan setelah acara selesai, kawasan ini tetap bersih dan nyaman,” tandasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, menyebut Kampung Ramadan Jogokariyan sebagai ruang kebaikan yang nyata bagi umat.
“Kampung Ramadan Jogokariyan bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi perwujudan nyata semangat umat dalam beramal, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial,” ujarnya membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.
Ia menilai Masjid Jogokariyan telah menjadi salah satu contoh keberhasilan penguatan ekonomi berbasis masjid di Kota Yogyakarta.
“Masjid Jogokariyan bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang perjumpaan, ruang tumbuhnya UMKM, serta ruang distribusi rezeki yang berkeadilan,” katanya.
Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bahwa ibadah ritual dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi rakyat.
“Ramadan mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya datang dari banyaknya harta, tetapi dari manfaat yang dirasakan bersama. Pasar bisa ramai tanpa kehilangan kejujuran, dan kompetisi usaha tetap bisa dibangun di atas ukhuwah,” tuturnya.
Lanjut Sukamto berharap Kampung Ramadan Jogokaryan terus memperluas dampaknya, baik bagi pedagang maupun masyarakat sekitar.
“Kami berharap semakin banyak lapak yang laku, semakin banyak warga merasakan keberkahan, dan semakin kuat solidaritas sosial yang terbangun,” ucapnya.
Sebelum membuka kampung Ramadhan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk mendoakan almarhum Muhammad Jazir sang Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan agar diterima amal ibadahnya dan mendapatkan husnul khatimah.
“Kepada masyarakat, mari kita doakan almarhum Muhammad Jazir diterima di sisi-Nya dan seluruh amal baiknya mendapat balasan terbaik,” pungkas Sukamto.

🟢 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












