
🌐 GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi dibuka di Lapangan Logandeng, Gunungkidul, belum lama ini mengusung tajuk “Adoh Ratu Cedak Watu”, perhelatan kebudayaan tahunan ini menyoroti tema adat istiadat sebagai bagian dari peta jalan tematik lima tahunan FKY (2023 – 2027).
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, melalui Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyampaikan bahwa FKY 2025 “menemukan rumahnya” bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara makna.
“Tema FKY tahun ini, ‘Adoh Ratu Cedak Watu’, saya paham bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin dari realitas yang telah lama membentuk watak masyarakatnya,” ujar Ni Made membacakan sambutan Sultan HB X.
Ia menuturkan, jarak dengan pusat kekuasaan dalam konteks Gunungkidul bukanlah bentuk keterasingan, melainkan ruang untuk tumbuh dan mandiri.
“Dari jarak itulah tumbuh cara pandang yang unik di mana masyarakat Gunungkidul menemukan keseimbangan antara hormat, mandiri, dan berbudaya. Jarak fisik yang awalnya terasa memisahkan perlahan menjadi ruang yang memberi kesempatan untuk mengolah daya, membangun kemandirian, dan melahirkan kebudayaan yang kuat akar, tetapi lentur menghadapi zaman,” tuturnya.
Lanjut Sultan HB X menekankan bahwa “Adoh Ratu Cedak Watu” bukan tentang keterjauhan dari kekuasaan, melainkan refleksi hubungan yang sehat antara rakyat dan penguasa.
“Saya melihat ungkapan ini bukan sebagai jarak yang memisahkan, melainkan jarak yang memberi ruang agar hubungan antara kekuasaan dan rakyatnya tetap sehat, saling memahami, dan tidak saling menelan. Dari jarak itulah muncul rasa hormat yang tumbuh dari kesadaran, bukan dari ketakutan,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa kebudayaan seharusnya menjadi ruang dialog yang lembut namun pasti, menghubungkan antara pusat dan pinggiran, antara yang mengatur dan yang diatur.
“Saya percaya, dari Gunungkidul kita belajar bahwa kemajuan tidak harus menjauh dari akar, bahwa modernitas tidak perlu memutus tradisi, dan bahwa kreativitas justru tumbuh dari kedekatan dengan kehidupan nyata,” kata Ni Made.
Sultan berharap FKY 2025 menjadi ruang yang “hangat, jujur, dan reflektif”, dimana sebagai tempat untuk merayakan kedekatan di tengah jarak dan menemukan kembali nilai-nilai yang membuat Yogyakarta istimewa bukan karena predikat, tetapi karena sikap.
Direktur FKY 2025: Gunungkidul Jadi Rumah Alami bagi Tema Adat-Istiadat
Direktur FKY 2025, B.M. Anggana menegaskan bahwa edisi ke-36 FKY ini menjadi momen penting dalam perjalanan lima tahunan festival, setelah tema pangan di Kulon Progo (2023) dan benda di Bantul (2024).
“Hampir tidak diperlukan perdebatan panjang bahwa tema adat istiadat ini telah menemukan sahibul hajat-nya, yakni Kabupaten Gunungkidul,” ujar Anggana dalam sambutannya.
Menurutnya, Gunungkidul memiliki “software kultural” yang unik yakni sistem nilai dan pengetahuan yang secara organik menolak segala bentuk penyeragaman identitas.
“Software kultural ini bukanlah perangkat yang diprogram dari luar, melainkan kode kebudayaan yang tumbuh bersama sejarah, diwariskan antargenerasi, dan terus disegarkan melalui interaksi sosial sehari-hari,” jelasnya.
Tema “Adoh Ratu Cedak Watu”, lanjut Anggana, merupakan metafora yang menegaskan kedekatan masyarakat dengan tanah, sejarah, dan lingkungan ekologis sebagai basis keberlangsungan hidup.
“Ungkapan ini menegaskan bahwa kekuatan masyarakat berakar pada langgam solidaritas yang tumbuh dari jaringan horizontal antara warga dan lingkungannya,” katanya.
“Manusia dan alam dihayati sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Maka “Adoh Ratu Cedak Watu’” dapat dibaca sebagai posisi kultural yang berpihak pada prinsip ekologis seperti kemandirian, keberlanjutan, dan keseimbangan,” sambung Anggana.
Melalui kerangka itu, FKY 2025 menghadirkan berbagai program seperti Pawai Rojokoyo, Jelajah Budaya, Pawan Hajat Kasiat, Pasaraya Ruang Berdaya, Gelaran Olah Rupa, hingga Sayembara Vlog FKY.
Selain itu, terdapat pula FKY Rembug bersama Universitas Gunungkidul, termasuk panel internasional yang menghadirkan Panai Mulu, Director of Indigenous Affairs dari Taoyuan City, Taiwan.
“Sebagai ruang aktivasi kebudayaan, FKY 2025 berupaya tetap bersuara di tengah krisis kemanusiaan dan lingkungan, meski itu hanya sebatas menyuarakan pikiran dan perasaan melalui bahasa kebudayaan,” tegas Anggana.
Khunda Kebudayaan DIY: Adat dan Tradisi Adalah Jangkar Moral
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) DIY, Dian Lakshmi Widyaningrum turut menekankan pentingnya adat dan tradisi sebagai “jangkar moral” di tengah derasnya arus globalisasi.
“Pelaksanaan cara lokal yang hidup dengan cara sederhana tapi penuh makna ini mengajarkan keseimbangan dan harmonisasi antara manusia, alam, dan sang pencipta,” ujarnya.
Dian mengingatkan bahwa pengaruh global seringkali menggerus nilai-nilai lokal dan melemahkan ikatan sosial.
“Kesejahteraan masyarakat masih terus perlu ditingkatkan agar kebudayaan tidak hanya menjadi identitas semata, tetapi juga menjadi sumber penghidupan dan kemakmuran,” ucapnya.
Ia menambahkan, adat dan tradisi merupakan modal spiritual yang membentuk daya hidup masyarakat masa depan.
“Kami meyakini bahwa adat dan tradisi bukanlah aktivitas masa lalu yang usang, melainkan modal spiritual yang membentuk daya hidup masyarakat di masa depan,” tegasnya.
Dian juga menyampaikan apresiasi kepada panitia FKY 2025 di bawah kepemimpinan B.M. Anggana, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, para seniman, budayawan, serta masyarakat Kalurahan Logandeng yang menjadi tuan rumah.
“Semoga FKY 2025 menjadi ruang perayaan yang memperkuat ikatan sosial, menumbuhkan pengetahuan, dan menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar peradaban Yogyakarta kini dan ke depan,” pungkasnya.

🔴 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







