
đ GUNUNGKIDUL, DIY ||Â WARTA-JOGJA.COMÂ –Â Permasalahan limbah organik yang selama ini menjadi tantangan bagi warga Playen, Gunungkidul, mulai diatasi melalui inovasi yang digagas lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui program Komposter Otomatis Zero Gas Rumah Kaca (KOSMOT-ZeroGRK), mereka mengajak masyarakat mengubah limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi warga.Â
Tim mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) ini terdiri atas Miftakhul Ulum (Fakultas Pertanian), Muhammad Irfan Anwari, Krisna Budhiantoro M.K (Sekolah Vokasi), Desta Satria Candrawinata, dan Aila Anisa Zahra (Fakultas Biologi), dengan pendampingan dari dosen Fakultas Pertanian UGM, Andi Syahid Muttaqin,.Â
Menurut ketua tim, Miftakhul Ulum, inisiatif ini berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya limbah organik di wilayah Gunungkidul, yang mencapai kenaikan sekitar 20 persen atau setara 79 ribu kilogram.
“Masalah emisi gas rumah kaca bisa kita tekan dari hal kecil, misalnya lewat pengelolaan limbah organik di rumah. Dusun Playen punya potensi besar untuk jadi contoh desa yang mandiri dan ramah lingkungan berbasis Zero Waste dan Zero Emission,â ujar Ulum, Kamis (9/10/2025).Â
Program KOSMOT-ZeroGRK mengombinasikan teknologi sederhana seperti *komposter otomatis*, biopori kompos, dan ember tumpuk. Sistem ini membantu warga, terutama kelompok Ibu PKK Rumah Kreatif Dusun Playen I, dalam mengolah limbah dapur menjadi pupuk kompos tanpa menimbulkan bau maupun emisi metana berlebih.Â
âPupuk hasil olahan bisa langsung dimanfaatkan untuk menanam sayuran atau tanaman pangan di lahan sekitar rumah. Kami juga memberikan pelatihan tentang mitigasi perubahan iklim serta cara memanfaatkan kompos untuk menambah nilai ekonomi keluarga,â imbuh Ulum.Â
Sementara itu, anggota tim, Muhammad Irfan Anwari, menilai bahwa penerapan teknologi pengolahan limbah organik secara mandiri dapat mendorong kemandirian masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Harapannya, masyarakat makin sadar bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar soal kebersihan, tapi juga bagian dari upaya menuju *Net Zero Emission 2060. Kalau diterapkan secara berkelanjutan, program ini bisa menjadi langkah nyata menuju dusun yang mandiri, bersih, dan lestari,â ujar Irfan.

đ´ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







