
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyatakan akan bergerak cepat menyikapi dugaan kasus keracunan makanan yang terjadi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Mlati, Sleman. Dugaan keracunan yang menimpa siswa dari tiga SMP ini diduga berasal dari lauk rawon yang dikonsumsi saat program berlangsung.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Susmiarto, menyampaikan bahwa pihaknya akan menggelar rapat evaluasi internal pada hari ini guna menindaklanjuti kasus tersebut.
“Hari ini (siang) nanti mau saya rapatkan. Saya nanti siang evaluasi. Saya ingin kejadian itu di samping yang di situ, apakah sebelumnya ada kejadian serupa. Terus selama ini penanganannya bagaimana, dan ke depan supaya tidak terulang itu bagaimana,” ujarnya saat ditemui pada Kamis 15 Agustus 2025 ditengah-tengah giat bazar di Lapangan Pemda Sleman.
Terkait operasional SPPG (penyedia makan MBG), ia menyebut akan mengevaluasi keterlibatan pihak-pihak terkait, termasuk BGN selaku penanggung jawab operasional MBG di lapangan.
“Justru itu, nanti saya harus komunikasi dengan BGN. Saya tadi koordinasi dengan BGN juga, memang perlu kita evaluasi. Maka dari itu nanti kalau saya sudah punya informasi-informasi, SPPG saya undang,” katanya.
Saat ditanya apakah layanan MBG masih tetap berjalan, Sekda menyebut program masih berlangsung di lokasi lain yang tidak terdampak. Namun, untuk lokasi terdampak, ia belum mendapat laporan lengkap.
“Yang lokasi MBG yang tidak bermasalah tetap berjalan. Tapi kalau yang lokasi itu (yang terdampak keracunan) saya belum tahu. Ini baru mau rembug dengan dinas. Sekali kalau itu saya enggak tahu, karena kan itu kan yang operasional BGN yaitu SPPG. Maka dari itu nanti kalau saya sudah punya informasi-informasi nanti SPPG saya undang,” jelasnya.
Lanjut Susmiarto menyebut bahwa evaluasi hari ini masih dilakukan di tingkat kabupaten, termasuk mendalami laporan dari dinas teknis dan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga Kodim.
“Diskusi ditingkat Kabupaten dulu, masalah laporan dari Dinas, kemudian teman-teman yang lain, misalnya panewu. Termasuk tadi saya tanya Pak Dandim, buat bahas ini,” imbuhnya.
Mengenai kondisi siswa yang dirawat di RSUD Sleman, ia belum mendapat pembaruan data pagi ini, namun semalam dilaporkan masih ada beberapa siswa yang menjalani perawatan. Sebelumnya, dilaporkan ada sekitar 15 siswa yang mengalami gejala keracunan.
“Untuk siswa yang di RSUD itu sampai sekarang masih di rumah sakit, saya belum tahu perkembangannya. Tapi, kalau tadi malam kan memang masih disana, tapi perkembangannya hari ini kan mungkin berubah,” ucapnya.
Soal pembiayaan, ia menegaskan bahwa Pemkab akan menanggung biaya melalui BPJS atau skema bantuan lainnya.
“Kalau dia ada BPJS ya pakai BPJS, kalau tidak nanti kita bantu. Tapi ke depan saya minta dapurnya tanggung jawab. Ini karena program kita, nanti dulu lah, pelan-pelan dulu,” tegasnya.
Agar kejadian tak terulang, Susmiarto kembali menekankan pentingnya pengawasan lintas sektor untuk menjamin keamanan makanan dalam program MBG.
“Peran kami misalnya Dinas Kesehatan ngawasi soal higienis dapur, memastikan tempat pengolahan makanan bersih, steril, ada SOP-nya. Kalau bahan makanan dari hewan, nanti Dinas Pertanian yang awasi. Kami di Pemda berkepentingan, karena ini menyangkut anak didik,” pungkasnya.

REDAKTUR: MAWAN







