WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa kondisi Jembatan Kewek saat ini hanya menyisakan kekuatan 20–30 persen, sehingga penanganan darurat harus segera dilakukan.
Hal itu ia sampaikan usai melakukan audiensi tertutup dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Balai Kota, Kamis (4/11/2025).
“Ya seperti Ngarsa Dalem tadi udah jelas ya bahwa Jembatan Kewek itu kita harus segera berbuat. Sekarang itu kan Jembatan Kewek ini ada yang patah, di ujungnya ada patah, geser 3 terbuka 3 cm, turun 10 cm, sampai di bawahnya itu juga anjlok gitu,” ujar Hasto kepada wartawan usai audiensi tersebut.
Menurutnya, kondisi struktur yang sudah sangat menurun membuat jembatan tidak lagi aman untuk dilalui seluruh jenis kendaraan.
“Nah, kekuatannya tinggal antara 20 – 30 persen. Oleh karena itu, kata Ngarsa Dalem tadi kita harus segera bertindak cepat untuk paling tidak mengatasi kondisi sementara,” tegasnya.
Hanya Motor yang Melintas
Hasto menyebut bahwa langkah cepat akan segera dilakukan, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
“Nah, jangka pendek kita bertindak cepat dalam mengatasi kondisi sementara, salah satunya adalah menutup sebagian. Jadi mungkin di situ hanya kita bolehkan lewat kendaraan kecil saja seperti sepeda motor atau kendaraan lain yang kecil. Tapi kendaraan yang lain yang berat-berat, semua kita tidak bolehkan, dan akan segera kita lakukan secepatnya, ya di Natal dan Tahun Baru ini sudah kita kerjakan,” tegasnya lagi.
Mengingat usia Jembatan Kewek yang telah 101 tahun, Sultan HB X dan Pemkot menilai jembatan tersebut sudah tidak layak dipertahankan secara konstruksi.
“Kemudian jangka panjang itu, kita kan harus melihat ini secara total bahwa Ngarsa Dalem sudah mengarahkan karena ini sudah umurnya 101 tahun, sudah lah sudah dianggap saja ini sudah total loss, sehingga kita bongkar secara keseluruhan,” jelas Hasto.
Dalam rapat tersebut, Pemkot Yogyakarta langsung berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan menerima respons cepat.
“Sehingga tadi kita juga intent berkomunikasi sambil rapat itu ke Kementerian PU Pusat. Dan Alhamdulillah sudah disanggupi dari Kementerian PU Pusat itu senilai 19 miliar itu untuk dianggarkan, dialokasikan di tahun 2026 itu,” ungkapnya.
“Sehingga akhirnya rapat ini juga lumayan sudah membawa berkah, kita langsung diberikan persetujuan cepat dari Kementerian PU Pusat untuk kemudian diakusisi oleh APBN sesuai harapan dan arahan Ngarsa Dalem,” sambung Hasto.
Ada Nilai Sejarah yang Harus Disisakan
Meski akan dibongkar total, Hasto menekankan bahwa jembatan tersebut memiliki nilai historis yang penting bagi Kota Yogyakarta.
“Dan satu catatan bahwa Jembatan Kewek ini kan ada nilai historis yang harus dipertahankan, meskipun fasadnya itu tidak ada heritage,” ujarnya.
Jembatan Kewek memiliki keterikatan sejarah dengan Sultan HB VIII, karena pembangunan awalnya didesain dan diresmikan oleh beliau.
“Tetapi sejarah menunjukkan bahwa pada saat peresmian Jembatan Kewek ini adalah jembatan yang di-create/didesign oleh Ngarsa Dalem yang ke delapan, sehingga Jembatan Kewek ini pun diberi nama pakai nama Ngarsa Dalem ke delapan,” jelasnya.
Oleh karena itu, dokumentasi dan penanda sejarah akan disiapkan dalam proyek pembangunan ulang.
“Nah, oleh karena itu kita juga, meskipun secara fisik fasadnya itu tidak ada penanda, tetapi kita harus mendokumentasi jembatan ini, harus membuat narasi, kemudian kita bisa meninggalkan sebagian sebagai penanda, entah itu nanti bagian mananya. Supaya itu menjadi penanda bahwa ini adalah bagian dari sejarah panjang waktu itu dimulai dari Ngarsa Dalem Sultan yang ke delapan,” pungkas Hasto.

🔶 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN













