
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Street coffee atau angkringan (Jawa red) di kawasan Kotabaru sampai hari ini terlihat menjamur meskipun kegiatannya sudah dilarang. Diketahui aktivitasnya sangat mengganggu kegiatan jama’ah gereja maupun masjid Agung Syuhada.
Paska hal itu aksi dukungan moril kepada pemerintah kota Yogya bermunculan untuk menertibkan aktivitas street coffee tersebut seperti di beritakan beberapa waktu lalu oleh beberapa media, pengurus Masjid Syuhada dan jama’ah mengeluhkan atas kebisingan yang bersumber dari kegiatan itu.
Syahirul Alim selaku Ketua Panitia Ramadan Masjid Agung Syuhada Abda mengatakan, beragamnya gangguan paska aktivitas street coffee salah satunya terkait dengan lahan parkir yang seharusnya digunakan oleh jamaah, namun malah difungsikan sebagai lapak-lapak usaha kopi dan tempat nongkrong.
“Apalagi memasuki sepuluh hari terakhir ramadan ini, dimana banyak jamaah Masjid Agung Syuhada ingin melaksanakan itikaf atau kegiatan berdiam diri di masjid dengan niat beribadah, mereka merasakan gangguan itu,” ungkapnya, Kamis (27/03/2025).
Dia pun menyampaikan, bahwa gangguan dari adanya kegiatan street coffee tidak hanya dirasakan oleh pengurus masjid saja.
Namun masyarakat dan pengurus gereja sejatinya juga tidak menyetujui adanya kegiatan tersebut.
Itu pula yang mendasari penindakan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja beberapa waktu lalu.
Menurutnya, aktivitas street coffee di Kotabaru menjamur sejak tiga bulan terakhir.
Fenomena tersebut berawal dari adanya salah satu cafe yang berada di samping bangunan Syuhada Center milik Masjid Agung Syuhada.
Untuk menindaklanjuti hal itu Laskar Islam Yogyakarta menggelar ‘Aksi Damai Dukung Penutupan Aktivitas Stree Coffee Depan Masjid Syuhada Kotabaru,
Beberapa laskar Islam seperti Laskar Santri Nekat, HAMKA Sunan Kalijogo, Kokam, Laskar Hajar Aswad, Laskar MGZ dan lain- lain mengadakan sholat witir dan memberikan statement dukungan kepada satpol PP kota untuk menertibkan kegiatan tersebut.

REDAKTUR/MAWAN





