
WARTA-JOGJA.COM || KENDAL, JATENG – Tren peningkatan angka pernikahan dini di Desa Mojo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, mendorong Tim II Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Universitas Diponegoro Tahun 2026 menghadirkan solusi edukasi berbasis masyarakat yang menyentuh akar persoalan. Melalui dukungan program DIKTI SAINTEK Berdampak, kegiatan ini mengintegrasikan pemahaman kesiapan psikologis, kesehatan gigi dan mulut, kualitas air bersih, serta pencegahan stunting sebagai fondasi membangun keluarga yang sehat dan berkelanjutan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (24/7/2026) di Balai Desa Mojo ini dirancang berdasarkan identifikasi kebutuhan nyata masyarakat. Pendekatan yang diterapkan tidak sekadar penyampaian materi, melainkan mendorong perubahan perilaku melalui diskusi partisipatif, demonstrasi langsung, serta media edukasi yang dapat dimanfaatkan warga secara mandiri.
Kepedulian utama tim tertuju pada meningkatnya praktik pernikahan dini di wilayah tersebut, yang sejalan dengan tantangan nasional. Data Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 6,92 persen perempuan berusia 20–24 tahun pada tahun 2023 tercatat menikah sebelum usia 18 tahun, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan angka perkawinan anak tertinggi di Asia Tenggara.
Dampak pernikahan dini ternyata jauh melampaui sekadar persoalan usia. Sekitar 41 persen remaja yang menikah pada usia anak mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma. Hal ini menegaskan bahwa kesiapan emosional dan psikologis menjadi aspek yang tak terpisahkan dari kesiapan memasuki rumah tangga.
“Kami melihat tren pernikahan dini di Desa Mojo justru meningkat. Oleh karena itu, kami hadir untuk menyadarkan masyarakat bahwa pernikahan bukan hanya soal usia, melainkan kesiapan mental, fisik, dan lingkungan yang mendukung,” ujar perwakilan tim penyusun program. Dosen Pembimbing KKN, Dyah Wijaningsih, S.H., M.H., menegaskan hal tersebut dalam keterangannya pada Senin (10/8/2026).
Melalui sosialisasi bertajuk “Siap Sehat, Siap Menikah: Kesehatan Psikologis dan Gigi-Mulut sebagai Bekal Cegah Pernikahan Dini di Desa Mojo”, mahasiswa memaparkan risiko jangka panjang berupa tekanan peran ganda, putus sekolah, isolasi sosial, hingga gangguan kesehatan jiwa. Materi juga memperluas wawasan warga dengan menghubungkan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehatan reproduksi dan kualitas hidup keluarga.
Sebagai langkah keberlanjutan, tim memasang poster informasi strategis di Balai Desa serta membagikan selebaran panduan kepada seluruh peserta, agar materi dapat didiskusikan kembali bersama keluarga di rumah.
Gerakan ini kemudian diperkuat melalui kegiatan malam bertajuk “Stop Pernikahan Dini Berbasis Komunitas Remaja Desa Mojo Ramah Anak”, yang mengangkat isu kualitas air bersih dan kaitannya dengan pencegahan stunting. Mahasiswa menjelaskan bahwa air yang tidak memenuhi standar kesehatan dapat memicu gangguan pencernaan berulang yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan anak dan berujung pada stunting.
Peserta diajak secara langsung mempraktikkan cara menguji kualitas air menggunakan alat ukur kadar keasaman (pH) dan padatan terlarut total (TDS). Warga menyaksikan pengujian sampel air setempat sekaligus mempelajari cara membaca hasilnya, sehingga mampu menilai kelayakan air yang digunakan sehari-hari. Panduan sederhana mengenai pemeliharaan sumber air pun dibagikan untuk menjadi pedoman warga.
Seluruh rangkaian kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), meliputi: SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 5 (Kesetaraan Gender dan Penghapusan Perkawinan Anak), serta SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Melalui pendekatan yang menghubungkan aspek psikologis, kesehatan, dan lingkungan, Tim II KKN-R Universitas Diponegoro membuktikan bahwa pencegahan pernikahan dini memerlukan kolaborasi lintas bidang. Harapannya, kesadaran yang terbentuk kini dapat melahirkan generasi muda Desa Mojo yang lebih matang, sehat, dan mampu mewujudkan keluarga berkualitas sebagai pondasi kemajuan desa.
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

Redaktur: Mawan








